Wawancara Guru Penggerak

  Wawancara Penyebab Masalah dengan Guru Penggerak

Wawancara Penyebab Masalah siswa belum mampu berpikir secara kritis dan memahami konsep HOTS dalam suatu pembelajaran.

Dalam kesempatan kali ini wawancara dilakukan dengan narasumber seorang guru, yaitu Bu Siti Hawa beliau adalah seorang Guru Penggerak di SMAN 1 TOBOALI, Pertanyaan yang di ajukan kepada beliau adalah Bagaimana Pengalaman, pandangan dan pemikiran Ibu sebagai Guru mengenai penyebab masalah siswa belum mampu berpikir secara kritis dan memahami konsep HOTS dalam suatu pembelajaran.

Beliau menyampaikan bahwa dalam pengalaman beliau sebagai Guru, penyebab masalah tersebut bisa berasal dari berbagai faktor.

Pertama, mungkin beberapa siswa memang mengalami kesulitan dalam memahami simbol-simbol matematika, sehingga mereka kesulitan dalam berpikir kritis terutama dalam konteks perhitungan. Solusinya mungkin bisa dengan memberikan pendekatan pembelajaran yang lebih konkrit dan praktis, serta memberikan bantuan tambahan untuk memahami konsep dasar matematika.

Kedua, siswa yang kesulitan menyelesaikan soal berbentuk narasi mungkin membutuhkan latihan khusus dalam membaca dan memahami konteks soal. Guru bisa memberikan lebih banyak latihan soal berbentuk narasi dan memberikan panduan langkah demi langkah dalam menyelesaikan soal tersebut.

Ketiga, jika ada siswa yang belum terbiasa dan kurang berlatih dalam menyelesaikan permasalahan yang menuntut berpikir tingkat tinggi, solusinya bisa dengan memberikan lebih banyak tugas atau proyek yang menantang, serta memberikan bimbingan dan dukungan ekstra untuk membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Keempat, jika siswa kurang memahami konsep dasar, guru bisa melakukan penilaian di awal pembelajaran untuk mengidentifikasi area mana yang perlu diperkuat. Kemudian, memberikan pemahaman konsep dasar yang lebih mendalam sebelum melibatkan mereka dalam pembelajaran yang lebih tinggi.

Terakhir, untuk siswa yang kurang memperhatikan saat guru menjelaskan soal HOTS, bisa dilakukan strategi pengajaran yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, simulasi, atau penggunaan media yang menarik perhatian siswa.

Penting juga untuk memberikan umpan balik terus-menerus kepada siswa, mengidentifikasi perkembangan mereka, dan memberikan dukungan tambahan jika diperlukan. Dengan pendekatan yang variatif dan dukungan yang adekuat, diharapkan siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memahami konsep HOTS dengan lebih baik.


Wawancara Siswa Belum Maksimal dalam Memanfaatkan/Visualisasi Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi.

Bagaimana Pengalaman, pandangan dan pemikiran Ibu sebagai Guru mengenai penyebab masalah siswa belum maksimal dalam memanfaatkan/Visualisasi penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi.

Sebagai seorang guru, mungkin saya akan melihat beberapa faktor yang mempengaruhi siswa tidak maksimal dalam pemanfaatkan media pembelajaran berbasis teknologi. Berikut adalah pandangan dan solusi yang mungkin saya pertimbangkan:

Pertama Penggunaan handphone yang tidak tepat. Pengalaman saya menunjukkan bahwa siswa terkadang menggunakan handphone secara tidak tepat selama pembelajaran. Hal ini dapat mengganggu konsentrasi mereka dan memengaruhi kinerja belajar. Sebagai solusi, saya akan menyampaikan aturan yang jelas terkait penggunaan handphone selama pembelajaran. Mungkin dengan membuat kesepakatan khusus untuk penggunaan handphone atau mengajarkan siswa cara menggunakannya secara produktif.

Kedua Ketidakmampuan siswa untuk mengontrol diri. Jika siswa memiliki kesulitan mengontrol diri dalam menggunakan handphone, saya akan mencoba melibatkan mereka dalam kegiatan yang positif atau Mungkin dengan memberikan arahan dan wawasan tentang manajemen waktu atau pembelajaran tentang efek negatif dari penggunaan handphone yang berlebihan. Saya juga dapat menggandeng orang tua untuk mendukung pembentukan kebiasaan positif ini di rumah.

Ketiga Kurangnya aturan yang jelas. Seringkali, kurangnya aturan yang jelas dapat memberikan siswa kebebasan yang tidak terkendali dalam menggunakan handphone. Saya akan bekerja sama dengan pihak sekolah dan staf untuk mengembangkan kebijakan yang jelas tentang penggunaan teknologi selama pembelajaran. Memastikan komunikasi yang baik kepada siswa, orang tua, dan staf pendidik mengenai aturan tersebut juga penting.

Keempat Kurangnya Akses ke Teknologi. Jika beberapa siswa mengalami kesulitan akses ke teknologi, saya akan mencari solusi untuk memastikan kesetaraan akses. Ini bisa melibatkan alokasi perangkat tambahan di sekolah, peningkatan fasilitas WiFi, atau bahkan kerjasama dengan pihak luar untuk menyediakan akses teknologi bagi siswa yang membutuhkan.

Pendekatan solusi secara umumnya bisa mencakup. 

Pelatihan dan Edukasi: Memberikan pelatihan kepada siswa mengenai cara optimal menggunakan teknologi untuk pembelajaran dan bagaimana mengontrol diri.

Kolaborasi dengan Orang Tua: Melibatkan orang tua dalam menyusun kebijakan dan memberikan dukungan di rumah terkait penggunaan teknologi.
Monitoring dan Umpan Balik: Melakukan pemantauan terhadap penggunaan teknologi oleh siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif.
Penguatan Kebijakan Sekolah: Memastikan bahwa kebijakan sekolah mengenai penggunaan teknologi jelas, diterapkan secara konsisten, dan disosialisasikan dengan baik kepada semua pihak terkait.

Dengan memperhatikan faktor-faktor ini dan memberikan solusi yang tepat, diharapkan siswa dapat lebih maksimal dalam memanfaatkan media pembelajaran berbasis teknologi untuk mendukung proses pembelajaran mereka.

Komunikasi antara guru, siswa dan Orang tua terkait pembelajaran siswa terhadap pembelajaran masih kurang.

Bagaimana Pengalaman, pandangan dan pemikiran Ibu sebagai Guru mengenai penyebab masalah Komunikasi antara guru, siswa dan Orang tua terkait pembelajaran siswa terhadap pembelajaran masih kurang.
Sebagai seorang guru, saya bisa melihat bahwa komunikasi yang kurang antara guru, siswa, dan orang tua bisa menjadi tantangan dalam meningkatkan pembelajaran siswa. Berikut adalah pandangan dan solusi yang mungkin saya berikan:
Pertama Solidaritas siswa rendah. Solidaritas rendah di antara siswa dapat menghambat komunikasi yang efektif. Untuk mengatasi ini, saya akan menciptakan kegiatan-kegiatan kolaboratif di kelas yang memperkuat hubungan sosial antara siswa. Proyek kelompok, kegiatan ekstrakurikuler, atau program mentoring antar siswa dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan solidaritas.
Kedua Siswa dalam mengerjakan tugas baik mandiri maupun kelompok tidak terselesaikan. Jika tugas tidak terselesaikan, bisa jadi karena siswa menghadapi kesulitan atau kurangnya motivasi. Saya akan lebih terlibat dalam mendukung siswa dengan memberikan bimbingan tambahan, memecah tugas menjadi langkah-langkah yang lebih kecil, atau menyusun tugas yang lebih relevan dan menantang. Komunikasi yang terbuka juga dapat membantu mengidentifikasi hambatan yang mungkin dihadapi siswa.
Ketiga Saat pembelajaran daring siswa tidak peduli akan tugas yang telah diberikan oleh guru melalui Google Classroom. Ketidakpedulian siswa terhadap tugas online mungkin disebabkan oleh kurangnya keterlibatan atau ketidakjelasan. Saya akan memastikan bahwa tugas yang diberikan memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari siswa dan memotivasi mereka untuk berpartisipasi. Menggunakan platform online untuk menyampaikan tugas juga memerlukan klarifikasi dan panduan yang jelas agar siswa memahami ekspektasi.
Solusi umumnya bisa mencakup:
Komunikasi yang Terbuka: Membuka saluran komunikasi yang efektif antara guru, siswa, dan orang tua. Mungkin dengan menggunakan aplikasi pesan atau email sebagai sarana komunikasi.
Rapat Orang Tua dan Guru: Melakukan rapat rutin dengan orang tua untuk membahas perkembangan siswa, tantangan yang dihadapi, dan cara untuk meningkatkan pembelajaran.
Mengembangkan Keterampilan Sosial Siswa: Mendorong kegiatan sosial di kelas, proyek kolaboratif, atau kegiatan ekstrakurikuler untuk membangun solidaritas dan meningkatkan hubungan antar siswa.
Menggunakan Metode Pembelajaran yang Interaktif: Menerapkan metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, baik dalam kelas atau secara daring.
Memberikan Dukungan Tambahan: Memberikan bimbingan dan dukungan tambahan bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas.
Dengan meningkatkan komunikasi dan memahami kebutuhan siswa, diharapkan dapat tercipta lingkungan pembelajaran yang lebih efektif dan kolaboratif.

Irwan Hari Suprapto
Irwan Hari Suprapto Seorang Guru yang telah mendedikasikan ilmunya untuk Dunia Pendidikan sejak tahun 2006

Posting Komentar untuk "Wawancara Guru Penggerak"